Rabu, 13 April 2016

Aqidah




Aqidah
Tema : Ma’rifatullah (Menganal Allah)

Innamal a’malu bin niat (Segala perbuatan tergantung niat)
·            
       1. Setiap orang mendapatkan segala sesuatu sesuai apa yang dia inginkan.
·         2.  Jika dia berhijrah karena Allah dan Rasulnya maka dia akan mendapat sesuai dengan apa yang ia dapat.

Masuk surga tidak ditentukan hanya dari amalan baik yang kita perbuat, tetapi karena Rahmat Allah SWT.

Cara mendapatkan rahmat Allah adalah dengan melakukan apa yang Allah sukai dan menjauhi apa yang Allah benci. Maka lalukan apa yang kita laksanakan berdasarkan karena Allah SWT.

Niat : segala sesuatu yang sedang dan akan dilaksanakan.
·          
       Ketika kita sudah mempersiapkan belajar lalu kita kecelakaan

Arti dari Illaha : Asyhadu allah illah ha illoullah
·         Illah : Tuhan
·         La Illaha : Tidak ada Tuhan / Tidak ditakuti /Tidak ada yang aku cintai / Tidak ada yang dituruti hukumnya / Tidak ada yang disembah.
·          
      Aku bersaksi bahwa tidak ada yang aku sembah, tidak ada yang aku ikuti praturannya kecuali Allah

Seberapa yakin kita takut kepada yang lain selain Allah
·         Takut itu manusiawi
·        
          Tapi gak boleh lebih dari takut kita kepada Allah
“Kematian bukan ditentukan karena dibunuh atau yang lain tetapi karena Allah SWT” (Engga Ramadhan)

Berasarksn Surah Ara’du
“Sayang itu boleh tetapi tidak boleh melebihi saying kita terhadap Allah SWT.”
“Ridho Allah tergantung Ridho orang tua selama dalam keimanan”

Seberapa bangga kita memiliki Allah sebagai Tuhan kita :

Beranilah berdiri saat gelap

Jika ada sesuatu yang menentang dari agama Allah maka kita tidak perlu mengikuti, walaupun itu akan membuat kita dibenci oleh orang lain

“Lebih baik disayang Allah dan dibenci orang lain dari pada sayangi oleh orang lain namun dibenci oleh Allah”
Ar Ra’du ayat 11
·       
          " Bagi manusia ada malaikat yang selalu mengikutinya mereka akan menjaganya, sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum kecuali mereka berusaha untuk mengubahnya."

Malaikat Hafadzoh adalah malaikat yang menjaga kita selama kita yakin ada Allah.

                                                                                                               (By Engga Ramadhan)  

Ketika Allah Telah Berkehendak

                      Suatu hari, ditengah malam yang sepi ada seorang ibu yang sedang bersedih di dalam kamarnya yang sempit. Beliau bernama Adinda, seorang wanita yang telah di dtinggal mati oleh suaminya. Adinda hidup bersama anaknya. Adinda merasa tidak kuat setelah kematian anaknya. Setiap harinya ia harus bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk anaknya. Ia mencoba mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan mereka. Berbagai tempat perusahaan dan tempat kerja lainnya ia datangi untuk melamar pekerjaan. Namun tak satupun dari perusahaan itu yang bisa menerimannya. Sedangkan uang tabungannya sudah mulai menepis. Ia teringat ketika kali Ridwan melamarnya. Kemudian menikahinya dengan atas restu orang tuanya. Mereka bersenandung, bersenda gurau dan bermesraan berdua. 

                 Setiap di pagi hari ia suaminya selalu memakan makanan yang Adinda masak dan tak lupa sebelum bekerja Ridwan selalu mengecup pipinya sebelum berangkat kerja. Ridwan orang yang baik, yang selalu memenuhi kebutuhan keluarga, Ketika Adinda sedang sedih Ridwanlah yang selalu menghiburnya dengan sepotong cokelat dan setangkai bunga. Menurut Adinda, suaminya adalah orang yang paling romantis, yang pernah ia temui. Ketika tepat hari Rabu tanggal 23 Januari 2009, ia harus pergi dinas keluar kota. Ditengah hujan deras itu mobil yang dinaikinya mengalami masalah. Jalan yang licin membuat Ridwan tidak bisa mengendalikan mobil. Hingga tepat didepannya mobil yang ia kendarai harus ditabrak oleh truk besar yang memang berada dijalannya. 

                   Serpihan kaca yang memang masuk kedalam tubuh Ridwan adalah saksi bahwa ia sedang terluka parah. Adinda memang tak bisa melupakan kejadian itu. Tantangan hidup yang menjadi sumber masalah utama, semakin membuat hatinya hancur. Malam itu Adinda memang tak bisa melupakan peristiwa yang ia hadapi dalam hidupnya. Rizal terbangun dan melihat ibunya yang sedang menangis. "Ibu ada apa, kenapa ibu menangi? Rizal takut bu ayo kita tidur" Pinta Rizal. "Tak apa sayang, mari kita tidur". Suara adzan di pagi hari membangun Adinda, Rizal putranya yang berusia 5 tahun bersiap untuk sholat subuh di masjid. Setelah menunaikan sholat subuh Adinda langsung membuat sarapan untuk putranya, sebelum putranya pulang dari masjid. 
                
                 Ketika Rizal tiba, Rizal bergegas untuk mandi dan bersiap untuk sekolah. Rizal melihat diatas meja hanya ada sebuah nasi dengan sebuah telur. Rizal kemudian bertanya "Ibu apakah ibu tidak makan?" Tanya Rizal "Tidak nak ibu masih belum lapar, ayo makanlah selagi masih hangat". Rizal pun kemudian makan dengan lahapnya, dan langsung berpamitan kepada ibunya untuk bergegas kesekolah. Adinda segera bersiap untuk mencari pekerjaan baru demi bisa menopang tanggungan hidup yang mereka alami. Setiap tempat ia berjalan demi mencari sebuah pekerjaan tidak pernah ia temukan. Hingga ia tiba di sebuah restaurant dimana ditempat itu terdapat lowongan pekerjaan. 

                   Ditempat itu ia langsung mengajukan CV untuk melamar pekerjaan. Manager di tempat ia bekerja melihat memang ada bakat pada diri Adinda, namun ada satu yang kurang. Manager mengatakan bahwa ketika ingin melamar di perusahaan ini, maka harus melepaskan hijab yang ia pakai. Ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. Andaikan Adinda menerima pekerjaan itu maka hilanglah sudah harga dirinya sebagai seorang muslim. Namun jika ia menolak bagaimana nasib keluarganya. Akhirnya setelah 5 menit berfikir ia memutuskan tidak jadi melamar menjadi pelayan restaurant. Meski begitu Adinda mencoba untuk tawakal dan ikhlas.  Sore harinya ia pulang dengan tangan hampa. 

                Ketika tiba dirumah, ternyata ada orang tua Adinda yang sedang duduk di ruang tamu menunggu kepulangannya. Betapa bahagiannya Adinda. Ternyata maksud kedatangan mereka untuk memberi tau bahwa sebenarnya ia sedang di lamar oleh seorang laki-laki bernama Firman. Orang tuanya juga mengatakan bahwa  Firman siap untuk menerima semua keadaan Adinda termasuk menjadi ayah bagi Rizal. Sangat sulit bagi Adinda untuk menerima Firman sebagai suaminya, mengingat bahwa ia sangat mencintai Ridwan. Ridwan terus menerus mendesak orang tua Adinda untuk menerima dirinya sebagai suami dari Adinda. 

                   Suatu malam ketika Adinda sedang duduk untuk melihat sebuah kolam ikan dimana dulu ia biasa berdua dengan mendiang suaminya dulu, ia menangis. Seolah ia ingin agar suaminya disini bersamanya. Tak lama setelah tangisnya ia mendegar suara tawa Rizal. Adinda menyusuri kekamar Rizal, dengan wajah penasaran ia membuka sedikit pintu kamarnya. Ternyata Firman sedang bermain dengan Rizal. Orang tua Adinda yang memang disitu menceritakan bahwa Firman adalah orang yang peduli lagi sabar. Namun hal itu tak membuat perasaannya berubah, karena ia masih sangat mencintai suaminya. Keesokan harinya Adinda ingin kerumah mertuanya yang merupakan ibu dari Ridwan. 

                 Mertuanya menyambut baik Adinda dan Rizal ketika mereka sampai. Ibunya menceritakan bahwa ia sangat rindu kepada mereka dan bersedih atas kepergian Ridwan. Adinda menceritakan  bahwa ia sesungguhnya akan dilamar, oleh seorang pemuda bernama Firman. Mertuanya kemudian memeluknya dan berkata, jika itu memang pilihanmu maka pilihlah. Mertuanya meminta untuk Adinda memikirkan masa depan Rizal. Yah Rizal memang membutuhkan seorang ayah. Ayah yang bisa memberikan kasih sayang dan bisa menjadi imam. Setelah berpamitan dengan keduanya Adinda melakukan sholat istikharah memohon petunjuk kepada Allah. Malam itu ia akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Firman. 

            Hari dimana pernikahan mereka akan diresmikan telah tiba, dan akad akan segera dilaksanakan. Semua tamu yang ada di acara pernikahan itu tampak sangat gembira, Setelah akad dilangsungkan Firman memeluk Rizal, dan sepertinya Rizal memang bahagia dan menerimanya sebagai ayahnya. Setelah acara selesai Firman mengajak Adinda dan Rizal ke suatu tempat, rumah yang baru dimana mereka memulai hari dengan cinta yang di ridhoi karena Allah. Allah menjawab semua doa dari Adinda, suami yang baik dan soleh bisa ia dapatkan sekali lagi tak hanya itu Allah memberikan kekayaan sebagai wujud bahwa itu baru sebagian kecil kasih sayang Allah untuk hambanya. Keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah telah terjalin lagi      
        
 
Mutiara Segelap Malam
 
Malam yang begitu dingin 
Bulan tak lagi menunjukkan sinarnya 
Saat tak lagi ada harapan
Segalanya telah lenyap 
 
                                       Mencoba memperthankan segalanya 
                                       Segala yang ada yang kita miliki 
                                       Jati diri dan hakikat seorang muslim
                                       Semuanya akan pergi 
 
Ketika malam dalam kesendirian 
Aku hanya termenung dalam sajadah 
Mencoba menghentikan segalanya 
Yang tak mungkin bisa kulakukan 
 
                                       Diam atau pasrah bukanlah jawaban 
                                       Usaha yang sia-sia bukan tindakan yang bijak 
                                       Ketika melihat dunia diambang yang berbeda 
                                       Gelap tak terlihat 
 
 
                                        

Minggu, 10 April 2016

Ikatan Ukhuwah 2015
                   Ikatan Ukhuwah 2015 (Ikhlas) adalah komunitas dibawah Fajrul Islam dimana dengan komunitas ini bisa terjalinnya ukhuwah satu angkatan. Ikhlas sendiri terbagi atas 3 regional yaitu Depok, Karawaci, dan Kalimalang. Khusus untuk kalimalang dibentuk nama angkatannya adalah Formasi. Didalam Forkat 2015 terdiri dibawahi oleh 3 Koordinator ikhwan dan 3 koordinator akhwat yang berfungsi sebagai aspirasi untuk menggerakkan kegiatan yang terpaut baik di 2015 maupun di Fajrul Islam itu sendiri. Koordinator ikhwan dan akhwat untuk depok ialah M. Ghufron dan Nabila, sedangkan untuk di Karawaci ialah Hasfi dan Vigy, Untuk di kalimalang ialah Dwi dan Delia. Acara yang telah dibuat di ikhlas ialah Forsil Depok, Forsil ke Karawaci, Rihlah ke Ragunan, dan Baksos dan yang sedang berjalan ialah rihla ke cengkareng dan kalimalang. 
                      Forsil ialah Forum silaturahmi antar angkatan dimana didalam forsil tersebut digunakan untuk silatuhrahim. Biasanya kita bermain kerumah teman atau kekampus dan disitu kita bisa isi dengan kegiatan-kegiatan yang menarik seperti diskusi, makan bareng bahkan foto bareng. Didalam forsil temen-temen disana bisa saling sharing baik dalam jurusan, diluar jurusan dan lain-lain sehingga keakrabban mulai timbul. Dengan forsil kita bisa saling kenal, tau berbagai macam karakter dan ukhuwah bisa terjalin dengan sempurna. Rihlah adalah jalan-jalan khusus satu angkatan dimana temen-temen bisa melepas lelah setelah jenuhnya kuliah. Didalam Rihlah sendiri itu ada ta'aruf games, tukar kado, dan lain-lain. 

                  Baksos adalah bakti sosial yang berfungsi dimana temen-temen bisa berbagi dengan orang-orang yang belum beruntung. Acaranya bisa ke panti asuhan untuk memberikan santunan, membantu korban bencana alam, dan orang-orang yang terkena musibah. Bakos sendiri biasanya diadakan 1 tahun sekali untuk tiap angkatan. Dengan kita memberi, kita membantu memberikan senyuman untuk saudara-saudara kita yang belum bahagia seperti kita bisa ikut merasa bahagia. Dengan kita berbagi, kita bisa meringankan beban saudara-sudara kita. Dengan ikhlas menolong, kita bisa membuat senyuman tulus yang insya Allah, Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita 
Kritik dan Saran 
.